Home > boleh dibuka, Kitab Suci > Sekilas tentang Kitab Suci Perjanjian Lama

Sekilas tentang Kitab Suci Perjanjian Lama

Sekilas tentang Kitab Suci Perjanjian Lama.
Alkitab adalah sebuah kitab yang unik karena terdiri dari banyak kitab. Dengan kata lain Alkitab adalah sebuah perpustakaan. Kitab-kitab itu dapat digolongkan dalam dua bagian besar, yakni Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Secara keseluruhan Kitab Suci terdiri dari 76 kitab. Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab dan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Perjanjian Lama adalah bagian utama pertama dalam Alkitab, biasanya dibagi kepada kategori-kategori hukum, sejarah, puisi dan nubuat. Semua buku-buku atau kitab-kitab tersebut ditulis sebelum kelahiran Yesus. Perjanjian Lama terkadang disebut Kitab-Kitab Ibrani, karena 97% isinya ditulis dalam bahasa Ibrani.

Kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama
Pertama, Kitab Hukum-hukum Taurat
Kejadian; Keluaran; Imamat; Bilangan; Ulangan
Kelima kitab ini merupakan satu kitab yang terdiri dari lima jilid (Pentateukh) dan dikenal sebagai Torah/Taurat Musa. Pada bagian ini juga digolongkan kitab-kitab yang lain yaitu: Yosua; Hakim-hakim; Rut; 1 Samuel; 2 Samuel; 1 Raja-raja; 2 Raja-raja; 1 Tawarikh; 2 Tawarikh; Ezra; Nehemia; Ester; Yudit; Tobit; 1 Makabe; dan 2 Makabe. Pada bagian ini terdapat 21 Kitab.

Kedua, Kitab Kebijaksanaan dan Nyanyian
Berisi serangkaian tulisan mengenai hikmat kebijaksanaan yang diungkapkan dalam bentuk puisi. Kitab-kitab ini terdiri dari 7 buah kitab yaitu: Ayub; Mazmur; Amsal; Pengkhotbah; Kidung Agung; Kebijaksanaan; dan Sirakh

Ketiga, Kitab nabi-nabi
Berisi kumpulan nubuat dan khotbah yang disampaikan oleh para nabi. Di dalamnya juga terdapa kisah mengenai nabi-nabi tertentu, yaitu: Yesaya; Yeheskiel; Yeremia; Daniel; Ratapan; Barukh; Hosea; Yoel; Amos; Obaja; Yunus; Mika; Nahum; Habakuk; Zefanya; Hagai; Zakharia; Maleakhi.
keempat nabi ini (Yesaya; Yeheskiel; Yeremia; Daniel) disebut sebagai nabi-nabi besar karena kitab-kitabnya tebal (memuat banyak bab). Hosea s.d. Maleakhi sering disebut nabi-nabi kecil karena kitabnya tipis-tipis (memuat sedikit bab saja).

Tradisi penerjemahan Alkitab Ibrani ke Yunani juga merupakan sumber yang sangat penting, yang disebut Septuaginta. Nama ini berasal dari bahasa Latin yang berarti “tujuh puluh” dan biasanya disingkat dengan huruf romawi LXX. Legenda tentang Septuaginta ini didasarkan pada Surat Aristeas pada abad ke-1 SM: Demetrius dari Phaleron, ketua Perpustakaan di Alexandria, mengusulkan kepada Raja Ptolemeus II Philadelphus (285-246 SM) untuk memasukkan kitab Taurat Yahudi ke dalam Perpustakaan Alexandria. Untuk melaksanakan proyek ini, maka 72 tua-tua Yahudi (enam dari masing-masing suku Israel/ 6 x 12 = 72), dikirim oleh Imam Besar Eliezer ke Alexandria untuk menerjemahkan kitab Taurat, dan penerjemahan itu memakan waktu selama 72 hari dan hasil dari penerjemahan ini digunakan oleh jemaat Yahudi yang saat itu berada di Diaspora Mesir. Legenda ini didasarkan pada motif mujizat munculnya Septuaginta. Namun dari legenda ini kita dapat memperoleh informasi, bahwa kitab Taurat dalam bahasa Yunani pada awalnya dipergunakan oleh jemaat Yahudi yang berada di Diaspora Mesir yang tidak bisa berbahasa Ibrani lagi, yaitu pada pertengahan abad ke-3 SM. Satu abad setelah itu, yaitu sekitar pertengahan abad ke-2 SM, seluruh Alkitab telah diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Hal ini didasarkan pada Prolog kitab Sirakh (sekitar 132 SM), bahwa “Taurat, para Nabi, dan kitab-kitab lain” (mengacu kepada tiga bagian dari kitab Ibrani, yaitu Torah, Nebi’im dan Ketubim) telah diterjemahkan dalam “bahasa lain” (tentunya dalam hal ini bahasa Yunani).

Kitab-kitab Deuterokanonika dalam Alkitab adalah kitab-kitab yang dipandang sebagai bagian yang kanonik dari Perjanjian Lama Kristiani oleh Gereja Katolik Roma dan Kekristenan Timur akan tetapi tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani, yang kerap dipandang protokanonik. Perbedaan ini telah menimbulkan perdebatan dalam Gereja awal mengenai apakah kitab-kitab tersebut dapat dibacakan dalam gedung-gedung Gereja dan karena itu dapat diklasifikasikan sebagai naskah-naskah yang kanonik.

Naskah-naskah Kitab Suci deuterokanonika adalah:
* Tobit
* Yudit
* Tambahan Ester (Vulgata Esther 10:4-16:24)
* Kebijaksanaan
* Ben Sira, juga disebut Sirakh atau Ecclesiasticus
* Barukh, termasuk di dalamnya Surat Yeremia (Tambahan Yeremia[2])
* Tambahan Daniel:
o Nyanyian Tiga Anak Suci (Vulgata Daniel 3:24-90)
o Riwayat Susana (Vulgata Daniel 13, Septuaginta prolog)
o Patung Dewa Baal dan Naga (Vulgata Daniel 14, Septuaginta epilog)
* 1 Makabe
* 2 Makabe

Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 – 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi – menurut tradisi – 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 – 125 SM dan disebut Septuagint, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi yang terusir, yang tinggal di Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap Gereja Katolik.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: