Home > Kelas X semester genap, Pendidikan Agama Katolik > Pelajaran 11b: Kitab Suci Perjanjian Baru

Pelajaran 11b: Kitab Suci Perjanjian Baru

Kita biasa bercerita tentang orang-orang yang kita kagumi dan kita kasihi yang mungkin telah meninggal. Cerita-cerita itu biasanya sudah diwarnai rasa cinta, rasa kagum, dan rasa percaya kepada tokoh tersebut. Cerita tentang tokoh itu akan berbeda jika diceritakan oleh orang-orang yang membencinya. Jadi, jika bercerita tentang tokoh yang kita cintai dan kita percayai, sebenarnya kita mau mengungkapkan kepercayaan dan cinta kita kepadanya. Cerita kita sudah diwarnai oleh kepercayaan dan cinta kita kepadanya. Bagaimana dengan orang-orang yang menulis tentang Yesus?

Kitab Perjanjian Baru, adalah nama bagian dari Alkitab Kristen yang ditulis setelah kelahiran Yesus Kristus dan dalam bahasa Yunani. Kata “Perjanjian Baru” merupakan terjemahan dari bahasa Latin Novum Testamentum, yang merupakan terjemahan Yunani ΗΚαινη Διαθηκη, I Keni Diathiki. Umat Kristen awal berpendapat bahwa, kitab ini merupakan penggenapan isi nubuat yang ada di Alkitab yang sudah ada dan lalu diberi nama Perjanjian Lama . Perjanjian Baru terkadang disebut sebagai Kitab Yunani Kristen karena ditulis dalam bahasa Yunani oleh para pengikut Yesus yang belakangan dikenal sebagai Kristen.

Secara tematik kitab ini bisa dibagi menjadi keempat kitab Injil, sebuah kitab sejarah, surat-surat Paulus, Surat Kepada Orang Ibrani dan surat-surat Katolik dan Wahyu.

Kita mengenal 4 pengarang injil, yaitu:
Matius. Menceritakan kisah Yesus dari segi sebagai Mesias, Raja orang Israel. Injil ini penuh dengan penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama.
Markus. Menceritakan kisah Yesus dari segi sebagai Hamba.
Lukas. Mempresentasikan Yesus sebagai Anak Manusia yang datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang terhilang.
Yohanes. Mempresentasikan Yesus sebagai Firman Allah yang menjelma menjadi manusia, Kristus, yang berarti, Yang Diurapi.
Alkitab yang ditulis oleh Matius, Markus, dan Lukas dikenal dengan Injil Sinoptik. Injil sinoptik seringkali menulis kisah yang sama tentang Yesus, namun dengan penjelasan dan panjang yang berbeda, namun memiliki urutan yang sama dan banyak menggunakan kata yang sama. Kemiripan di antara tiga buku tersebut sangat dekat sehingga banyak peneliti yang menandainya sebagai masalah sinoptik. Sekarang ini, para peneliti mendukung hipotesis dua-sumber, bahwa Lukas dan Matius mengambil sebagian dari Markus yang lebih awal. sedangkan, Injil kanonikal ke-4, Injil Yohanes, berbeda jauh dengan sinoptik dalam Kristologi, pengajaran Yesus, mukjizat, gaya tulisan, dan lainnya.

Sebuah kitab sejarah yang dimaksud adalah Kisah Para Rasul yang merupakan catatan sejarah dari kenaikan Yesus hingga perjalanan-perjalanan misi Paulus.

Hampir separuh PB, yakni 13 kitab, memakai nama Paulus sebagai penulisnya (= Surat surat Paulus). Selain itu, dalam satu kitab lainnya (Kisah Para Rasul), lebih dari separuhnya berisi tentang sosok yang sama, yakni: tentang bagaimana ia dipilih menjadi rasul dan bagaimana ia memberitakan kabar baik ke seluruh wilayah kekaisaran Roma. Ini cukup menjadi indikasi tentang betapa pentingnya sosok ini dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan kekristenan mula-mula. Ia berkhotbah dan mengajar di banyak tempat dalam perjalanannya melintasi batas-batas Laut Tengah. Sejumlah suratnya ditujukan kepada jemaat-jemaat atau umat yang sudah pernah ia temui sebelumnya dalam pekerjaan pemberitaan kabar baik. Tetapi, sebagian suratnya ditulis untuk jemaat atau orang yang diharapkan akan ia temui pada kemudian hari. Surat-surat Paulus adalah sbb:

Roma. Penelaahan yang sistematis atas pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan. Menelaah rencana Allah atas orang Yahudi maupun non-Yahudi.
Korintus. Surat ini menyoroti perpecahan dalam jemaat dan teguran atas pelanggaran susila, masalah mencari keadilan kepada orang-orang yang tidak beriman, dan kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam Perjamuan Kudus. Juga menyinggung tentang penyembahan berhala, pernikahan, dan kebangkitan.
2 Korintus. Pembelaan Paulus atas kerasulannya.
Galatia. Paulus membuktikan kesalahan dari legalisme (menganggap Hukum Taurat sebagai mutlak dalam memperoleh keselamatan) dan menelaah mengenai tempat yang layak bagi anugrah di dalam kehidupan orang-orang Kristen.
Efesus. Posisi orang percaya di dalam Kristus dan informasi mengenai peperangan rohani.
Filipi. Paulus membicarakan tentang pemenjaraannya, kasihnya kepada jemaat di Filipi. Ia mendesak mereka ke arah kesalehan dan memperingatkan mereka akan bahaya legalisme.
Kolose. Paulus memfokuskan pada keutamaan Yesus dalam penciptaan, penebusan, dan kekudusanNya.
1 Tesalonika. Pelayanan Paulus kepada jemaat Tesalonika. Pengajaran mengenai kesucian dan menyinggung tentang kembalinya Kristus untuk yang kedua kalinya.
2 Tesalonika. Koreksi-koreksi atas pendapat yang salah mengenai Hari Tuhan.
1 Timotius. Instruksi-instruksi kepada Timotius mengenai kepemimpinan yang benar dan cara-cara menghadapi ajaran sesat, peranan wanita dalam gereja, doa, dan syarat-syarat bagi penilik jemaat dan diaken.
2 Timotius. Sepucuk surat untuk menguatkan Timotius.
Titus. Paulus meninggalkan Titus di Kreta guna menggembalakan gereja-gereja di sana. Syarat-syarat menjadi penatua gereja dan penilik jemaat.
Filemon. Supucuk surat kepada seorang tuan mengenai budaknya yang melarikan diri. Permohonan Paulus kepada Filemon supaya mengampuni Onesimus, budaknya.

Surat Kepada Orang Ibrani. Supucuk surat kepada jemaat Kristen Yahudi yang sedang di ambang kembali memeluk Yudaisme. Surat ini menunjukkan keunggulan Kristus dibandingkan dengan sistem Perjanjian Lama. Menyinggung juga tentang keimaman Melkisedek. Penulis tidak diketahui. Beberapa pakar menilai dari gaya tulisannya bahwa penulisnya adalah Paulus, namun karena kurangnya bukti selain gaya penulisan, maka pakar lain memilih untuk tidak berpendapat.

Surat-surat Katolik
Yakobus. Ajaran tentang hubungan antara iman dan perbuatan.
1 Petrus. Surat ini untuk menguatkan penerima suratnya dalam penderitaan mereka dan agar mereka tetap rendah hati.
2 Petrus. Membicarakan mengenai batin tiap pribadi, peringatan mengenai ajaran palsu, dan menyinggung mengenai Hari Tuhan.
1 Yohanes. Surat yang memperingatkan jemaat terhadap ajaran-ajaran sesat pada permulaan sejarah Gereja.
2 Yohanes. Puji-pujian untuk mereka yang berjalan di dalam Kristus dan sebuah peringatan untuk tetap berjalan di dalam kasih Allah.
3 Yohanes. Yohanes berterimakasih kepada Gayus atas kebaikannya terhadap jemaat Allah dan menegur Diotrefes.
Yudas. Mengekspos guru-guru palsu dan menggunakan ibarat-ibarat dalam Perjanjian Lama dalam melukiskan penghakiman atas mereka. Nasihat-nasihat untuk meneguhkan iman.

Dan terakhir adalah Kitab Wahyu, yang adalah Surat yang dikirimkan kepada jemaat-jemaat yang mengalami penganiayaan pemerintah Roma dan anjuran agar mereka tetap setia di dalam iman mereka. Kitab Wahyu kepada Yohanes ini ditulis oleh Yohanes dari Patmos pada abad pertama Masehi di pulau Patmos. Pada masa itu umat Kristen disiksa dan dikejar-kejar karena kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus sebagai Putra Tuhan. Dengan menulis kitab ini sang penulis berharap ingin memberi semangat kepada para pembaca dan pendengarnya, dan juga untuk mendorong mereka supaya tetap percaya pada waktu disiksa dan dikejar-kejar. Sebahagian besar kitab Wahyu terdiri atas beberapa rangkaian wahyu dan penglihatan yang oleh orang-orang Kristen zaman itu artinya mudah dimengerti. Akan tetapi ini sulit dimengerti di kemudian hari karena dikemukakan memakai simbolisme yang rumit.

Referensi: dari berbagai sumber

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: