Home > refleksi > setetes air mata untuk direnungkan

setetes air mata untuk direnungkan

Waktu terus beranjak, tidak ada yang mampu menghentikan, dia akan bergulir dan terus bergulir tanpa perduli dengan apapun. hari berganti hari, bulan pun beranjak pergi dan tahun baru semakin mengurangi usia dunia ini yang semakin renta.

jika kita melihat tahun 2011 yang hampir berlau ini banyak terjadi berbagai bencana besar yang melanda. Tsunami yang menghantam Jepang, pemanasan global yang terasa sangat menyengat, di US saja 42 derajat celsius, bisa kita bayangkan panasnya udara pada saat itu. belum lagi di negara kita, banjir yang di iringi tanah longsor, gempa bumi dan juga gunung meletus semakin menyemarakkan parade bencana di dunia ini. tak terhitung korban yang hilang dan meninggal, tak terhitung pula kerugian yang diderita, mengiringi tetesan air mata penderitaan umat manusia.

menyedihkan? saya rasa kata itu tidak sanggup mewakili semua air mata dan darah yang tertumpah. satu hal yang dapat bisa kita intip, siapa kita manusia di dunia ini? dimana kesombongan yang biasa di agung-agungkan? dimana kemewahan status sosial yang menjadikannya bahagia? dimana orang-orang yang gila kuasa berada? sampai rela membantai sesamanya untuk menduduki kekuasannya. semuanya hanya tinggal tetesan-tetesan air mata yang akan lenyap sebelum jatuh menyentuh bumi.

harta benda yang ditumpuk setinggi gunung, jabatan dan kekuasaan yang diraih akan berakhir dengan kemunafikan dan kemaksiatan. ironis bukan? jika kita membandingkan diri kita dengan dunia yang begitu besar. hanya kesia-sia-anlah yang terjadi. kita sampai lupa bahwa waktu tidak pernah berhenti sampai tiba waktu pengadilan yang paling adil untuk kita.

berbuat baik, itulah satu-satunya hal yang dapat kita lakukan, tidak ada yang lain. karena tidak pernah akan ada lagi kesombongan, kekuasaan dan kekayaan jika waktu itu telah tiba. tidak akan ada yang pernah tahu kapan itu datang. bencana atau pengadilan dari Tuhan? tidak pernah ada yang bisa membedakan, bahkan tidak pernah terpikir untuk membedakannya.

selagi masih ada kesempatan untuk berbuat baik, mari kita lakukan sesuai dengan hati nurani kita, karena tidak akan ada nurani yang salah selama masih dalam tuntunan akal dan pikiran yang sehat. selamat menyongsong tahun baru, semoga kita dapat melakukan yang terbaik bagi dunia ini.

Categories: refleksi
  1. 10 March 2015 at 11:24

    Terimakasih. Bahan refleksi yang sungguh luar biasa.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: